Produksi gula semut Semedo Manise berawal di Desa Semedo yang digerakkan dan dibina pemuda setempat Akhmad Sobirin. Menyandang gelar sarjana teknik mesin dari Universitas Gadjah Mada, pemuda 31 tahun tersebut memilih kembali ke desa. Petani kelapa di Banyumas bisa ditemukan hampir di setiap desa karena melimpahnya tanaman kelapa di daerah tersebut. Banyaknya petani dan sedikitnya permintaan pembeli membuat harga kelapa jadi tak seberapa. Sobirin sejak 2012 Gula semut merupakan gula kelapa yang berbentuk serbuk dan menyerupai rumah semut. Ternyata gula semut Semedo Manise yang sudah mendunia berasal dari Banyumas, Jawa Tengah sebagai daerah penghasil gula kelapa terbesar di Asia.

Petani gula semut di kelompok tani ini mendapat banyak pesanan dari Amerika dan Eropa. mengajak para petani untuk membuat gula semut yang harga jualnya lebih tinggi. Sobirin mengajarkan proses produksi gula kelapa kepada para petani dan membentuk Kelompok Tani Manggar Jaya pada 1 Juni 2012. Sebelum terbentuk kelompok tani, gula semut hanya dibanderol harga Rp5.000/kg karena ditekan oleh para tengkulak. Kesejahteraan petani mulai meningkat setelah harga gula yang naik mencapai Rp25.000/kg pada tahun ini. Ekspor Gula Semut “Bisa dikatakan 99% gula dari Kelompok Tani Manggar Jaya kita ekspor,” ujar Sobirin. Petani gula semut di kelompok tani ini mendapat banyak pesanan dari Amerika dan Eropa. Setelah produksi dan ekspor gula semut sudah berjalan baik, Sobirin mulai mengembangkan produk turunan lainnya dari kelapa. Pada 2016, Sobirin mulai melatih petani memproduksi minyak kelapa atau Virgin Coconut Oil (VCO) dengan merek Viko. Pendampingan petani pun semakin meluas, berawal dari 50 petani di satu desa hingga kini sudah membina 150 petani di tiga desa. Tahun ini pun ia menargetkan untuk bisa membina 700 bahkan 1.000 petani. Berkat serangkaian usaha bagi desanya itu, Sobirin mendapat apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 kategori Kewirausahaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here